Setelah sampai Di RS
(dirahasiahan), seperti layaknya ibu ibu rempong lagi belanja sayur didepan
rumah, om Iksan juga melakukan hal yang sama,
‘Mo kamu langsung daftar gih!’
Padahal letak mobil belum layak
untuk Momo jejakkan kaki ketanah, dan untuk apa harus buru-buru, toh sama –sama
ngantri juga
‘Sekarang?’
Mempertegas kapan harus turun.
‘Eh nanti ajah de’
Mungkin dia mengerti perasaan Momo
‘Kapan?’
‘Bentar.. bentar lagi’
Momo seperti pelari yang
menunggu aba aba!
siap! siap!
satu.. dua.. tiga..
Momo jalan menuju mesin
regristasi! mungkin semua orang yang pernah ke per(dirahasiakan) akan tau
bentuk mesin ini. Momo jalan, biasa, dan ngga perlu lari! kalau lari bisa bisa
menurunkan harga warteg dan martabak.
Disana ada satpam yang
kerjaannya cuma duduk diem ngga bergeming, mungkin kah celananya lagi robek?,
ataukah kaus kaki beda sebelah?, dan yang menjengkelkan mereka cuma ngelihatin Momo
yang lagi kebingungan. Momo kringet dingin ngelihat komputer layar sentuh ini.
‘Pak ! pensiunan pencet mana?’
Sambil nunjuk ke layar .
‘Pencet regristasi dek’
minus : makan gaji buta nih orang !
(teroris mungkin bahagia banget kalau tau hal ini)
Keluarlah kertas kecil dengan
tulisan ke 414, cukup menjelaskan kenapa satpam itu tidak menegur Momo. sudah
ada empat ratus pasien, dibawah 414 ada penjelasan lagi, sisah 25 antrian.
Oh mai dot !! banyak bener!.
Setelah mba Sri menurunkan
nenek dari kap mobil. ralat ya, dari dalam mobil, ahkirnya Momo paham, kenapa
ada julukan orang udik. cerita mbak sri pun mulai, dia mulai sibuk dengan
barang bawaannya, tiba tiba kursi tunggu di sulap menjadi tempat piknik
keluarga, tas-tas besar milik nenek berjejeran. Untung ajah tadi ngga bawa
tiker.
Tas popok yang besar, yang rada
kecil tempat makan. dan ini menjadi pemandangan yang membuat kemaluan Momo
bergetar.
Sepasang suami istri yang baru
datang, memandangi tempat ajaib ini.
yang cewe, nunjuk-nunjuk
‘Mas, kita duduk disana ajah.’
Yang cowo,
‘Jangan ada orangnya! sambil
ngajak ketempat lain.’
Momo dari jauh cukup menutup
muka, dengan maksud jangan sampe ada yang nyadar kalo Momo satu rombongan
dengan mereka.
Kursi kan buat duduk, bukan
buat boking tempat mbak! (setres sendiri) Momo Ngomong dalam hati.
Nenek menyuruh mbak Sri
mengambil roti, dan menyuguhkan ke Momo,
‘Sri kasih ke Momo.’
Mba Sri pun datang.
‘Kak, Roti.’
Momo geleng geleng, sambil
menggetarkan pita suara ‘MmmM..’Pura-pura ngga kenal.
Tapi biarpun Momo sejahat itu, Momo
terus memperhatikan tingkah laku mereka. selesai makan roti, nenek menyuruh mba
membuang sampah, otomatis kursi disebelah nenek kosong dengan baik hati atau
apalah, nenek malah menaruh tongkatnya didepan kursi kosong tempat mba Sri
besemedi dengan segala bau bau ahkir zaman.
Kemudian datanglah pria separuh
baya. Dia heran dan bertanya,
‘Tongkat
siapa?’
Dia lirik ke nenek, nenek pura
pura ngga lihat, mungkin supaya ngga ditanya, ‘nek temennya pergi kemana? kok
tongkatnya ketinggalan?’
Kalo tas di atas kursi, masih
wajar, tapi tongkat di depan kursi, maksudnya apa? Dia cuma mampu menggaruk
kepalanya. Mungkin didalam hatinya
Kalau duduk? gua harus siap
siap di usir, tapi kalau gue ngga duduk? kaki gue pegel..
kegelisahan hatinya terpancar
dari gaya dia berjalan foto model, maju mundurnya didepan tongkat nenek.
Ahkirnya dia hanya bisa
mandangin kursi, sama tongkat sakti nenek yang tegak berdiri seperti mengancam
setiap orang yang mendekat. lalu dia pergi juga.
Banyak orang unik dirumah sakit
ini, semua bertingkah laku sama kaya nenek Momo dan mbak Sri. Sambil memandangi
kursi sebelah nenek, Momo teringat sama peliharaan yang kita bawa dari rumah,
MBAK SRI yang ngga balik-balik setelah disuruh buang sampah.
Momo arahkan pandangan, mencari
lokasi pembuangan sampah. saat terlihat. ternyata dia lagi asik teleponan, Momo
jadi keringet dingin, karena sudah banyak yang bolak balik mengincar tempat
duduk disebelah nenek, tongkat sakti nenek pun menantang mereka satu satu. Momo
takut nenek digebukin, karena memblokade kursi dengan tongkat. Sambil membaca
memanggil jelangkung, Momo coba panggil mbak sri, mbak sri mbak sri disini ada
pesata... Momo perhatiin lagi, ternyata si mbak sri sudah kesurupan babi hutan.
‘Apa yang dia bicarain
disebelah tong sampah?’
Lima menit berikutnya mba Sri
kembali kesebelah nenek, rasa gelisa pun redah. menghilangkan kebosanan, Momo
putuskan untuk memandangi sekeliling ruangan tunggu ini.
Melihat tingkah unik
orang-orang di rumah sakit ini, cewe dengan rok pendek lewat, dia duduk dengan
memaksakan roknya ke depan dengkul. menarik sambil menggoyangkan pinggul,
meskipun dia tau itu ngga kan ada gunanya. Lalu cewe berpenutup kepala meng
garuk garuk dagunya, oh mungkin dagunya sudah mulai jamuran. Ada lagi orang yang terima telepon dengan suara
keras,
‘Halloo!! Opung? apa kabar ?.’
Lewat gitu ajah, mirip motor
berkenalpot kaleng, ‘Breeeeenggggg’
Satu jam kemudian, akhirnya
tiba antrian no 414… hasilnya kita disuruh pulang, ??? boong deh, kita di usir
kelantai dua, ruang kebidanan, dalam hati Momo udah triak triak, ‘bosan-bosan’dan
membayangkan menendang bokong mba sri.... ‘aaaaaaa bosan!’
‘Ayo naik lift’
Dalem lift Momo berhayal nari nari untuk
ngusir semua orang. Saat naik keatas dengan lift, Momo coba sabar, Momo jalan
dengan otak berdenyut, pala Momo mulai pusing, mungkin karena belum minum, Momo
tanya ke mba sri
‘Mbak ada minum ngga,’
Dia ngga jawab, tapi langsung
merogoh bawaannya, . . . ‘ini ada,’Sambil menyuguhkan aqua gelas ke Momo
‘Eh bentar’
Mba sri memberhentikan Momo, Momo
tatap, dia seperti mencari sesuatu dalam bawaannya,
‘Nah ini sedotan,’
Momo jawab, ‘Ngga usah mbak’,
Dia bingung saat Momo tolak.
‘Ia ngga usah mbak!,
Momo jelaskan ‘Sedotan itu lubang
nya kecil,’
Dia menaruh kembali dan pura-pura
mengerti dengan jawaban
‘Owwh,’
s-was n� � i @� �?� a, sampe telepon dia dengan teriak-teriak..
waaa..waaaa.waaaa.. itu suara yang kedengeran waktu gue nguping pembicaraan dia
dengan ibunya
Terpaksa
gue nganter dia pulang, rumah nya ada di kalibata, cukup jauh, dan karena udah
malem, gua pake mobil untuk nganterin dai pulang,
‘sayang
kamu lihat kucing terbang ngga?’
‘Mana?’
‘Itu
diatas’
‘Ngga lihat
tuh..’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentarnya kakak :p