Momo menghela nafas panjang,
mengahkiri kenangan itu sembari berdiri di dekat jendela kamar.. kembali
kedunia nyata, Momo masih yakin kalau kesempatan itu ada.. “Ternyata mama lekas
menjawab doa.”
Took…took..took..!! pintu kamar
berbunyi
Momo diemin..
Ketokan ke dua
‘toook…tok..tok..tok!!
Momo cuekin.. -__-
kali ini lebih kencang.
Ketokan ketiga,
toook…tok..tok..tok! dalam hati udah dongkol,
Momo bergumam
‘Siapa sih !’x__x
‘Kakak !! Oma mau kerumah sakit,
kamu mau di rumah atau ikut?’
teringat tentang kesempatan!
seperti tersengat listrik statis. Mungkin ini adalah jawaban doa!
mengepal tangan ke atas, YOOO!!
lalu Momo jawab:
‘Ia, aku ikut.’
Thx yah mom!
‘Sana mandi… kita dijemput om
Icksan.’
Singkat cerita semua udah di
mobil, yang ikut : Momo, nenek, embak sri, om icksan, dan om angki sebagai
supir pribadi.
eni wai.. Momo ini naksir
banget sama kepala yang dimiliki om Angki, pengen Momo pacarin kepalanya, lalu Momo
taruh bibit unggul jagung hibrida, dan beras ciganjur, biar padi dan jagung
bisa menghiasi lahan lincin seluas bola plastik itu.
Dalam keadaan pintu sudah
tertutup rapat, om Iksan bilang,
‘tadi bau telor busuk, masuk ke
mobil.’
Padahal sih Momo paham
maksudnya, itu sih bau ketiak milik mbak sri, Momo hanya tertawa cekikikkan
dalam hati.
lalu dari kaca spion Momo
perhatiin mbak Sri semakin mengempit ketiaknya, dengan semangat perjuangan
empat lima, agar bau nya tidak menyebabkan penjajahan didalam mobil. dia pun
terus mengempit, dan menggeser pantatnya, duduk rada kepojok.
Teringat lagi tentang
kesempatan, Kalo begitu, Momo harus menangkap hal sekecil apapun. Momo ambil
selembar kertas dan pulpen dari tas, Momo pandangin gedung-gedung, Mall-mall, lewat
satu—lewat lagi dua. Tiga.. empat…. dan seterusnya..
‘kenapa yah padahal kota elit,
tapi warna bangunannya nya sudah pudar?’
Momo taruh kertas di pangkuan Momo,
mulailah Momo menulis
“bangunan di jakarta cacat.”
Momo berfikir, coba Pemerintah lebih kritis dari Momo, mungkin
mereka akan mengeluarkan peraturan tentang bangunan dijalan raya.
“Harus Tampak Indah Baik Dari
Dalam Maupuan Luar.”
Setelah selesai dengan hal
kekusangan jakarta, Momo coba perhatikan lagi liku-liku jakarta..
tidak ada yang bisa dikomentari
sejauh ini. Tiba tiba om Angki bersuara...
‘Pak.. kita lewat jalan
jembatan antasari non tol, yah pak’Makasudnya berbicara ke om Icksan
om Icksan pun menjawab ‘Oh ia
boleh boleh ki’
-Katanya sih biar ngga macet !
Eh ga tau nya, macet juga.. x_x
Momo yakin, dalam hati si om
angki bilang, ‘Sialan nih macet, bikin malu gue!’
‘kok macet yah ?’
Momo bertanya seperti peneliti
yang melakukan penelusuran kenapa ada semut diatas meja makan. Kenapa pohon
goyang goyang kalo ada angin. Kenapa kuda larinya kedepan. Pokoknya pertanyan
ini suguh ngga ada kegunaan buat siapapun yang denger.
Setelah menunggu lama, ketahuan
penyebabnya : numpuk di puteran!
‘Jadi cuma gara-gara muter
balik ?’
satupun ngga ada yang mau
ngalah, semua ingin lebih cepat..
oh ini mungkin ini bisa jadi
materi Momo,
Momo tulis lagi
mungkin ngga penting, tapi
harus di tulis, diputeran pasti macet. Jika Momo jadi gubernur, Momo mau
mengajak para pemilik mobil untuk mengalah.
“satu kendaraan untuk satu
kendaraan”
Dibelakang pembicaraan, Momo
ancem begini,
‘kalo ga nurut Momo buat polisi
tidur di tiap puteran!
Selesai macet, Momo terdiam menatap jalanan, tapi
dari disitulah Momo sadar banyak keunikan dijakarta, contohnya seperti banyak
rumput liar tumbuh dipinggir jalan, yang nyatanya jalan ini baru ajah di aspal!
Tukang ojek memenuhi setiap
halte, yah padahalkan halte buat nunggu angkutan umum, bukan angkutan
pribadi(ojek) masih ada peminta minta, pak ogah, parkir dimana mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentarnya kakak :p